KATA
PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim…
Puji
dan syukur kami panjatkan kehaadirat Allah SWT. Yang mana telah memberikan
petunjuk dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah
Ilmu Pengetahuan Sosial I (IPS I).
Ucapan
terima kasih kami ucapkan kepada dosen dan rekan-rekan semua yang telah
mendukung dan membantu dalam pembuatan makalah initerutama kepada Bapak Abdul
Aziz,S.Hi,M.Pdi. yang telah memberikan tugas. Mudah-mudahan makalah ini dapat
bermanfaat bagi yang membaca dan umumnya bagi kita semua.
Kami
menyadari segala kekurangan pada makalah ini dapat dipastikan adanya, baik dari
segi pengerjaan, penyajian, sistematika penulisan maupun kelengkapannya. Oleh
karena itu, kritik dan saran dari rekan-rekan semua kami harapkan.
Ciamis,
Oktober 2013
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Manusia
adalah salah satu ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan
kemauan yang tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain.
Kelebihan inilah yang mendorong manusia mampu menguasai alam, menaklukkan
makhluk yang lebih kuat dan menciptakan segala sesuatu yang dapat
menyempurnakan dirinya.
Hal
ini bisa tercapai karena di dalam diri manusia terdapat potensi yang selalu mengalami proses perkembangan setelah
individu tersebut berinteraksi dengan
lingkungannya.
Interaksi
social manusia di masyarakat, baik itu antar individu dengan kelompok atau
antar kelompok, tidak dapat dilepaskan dari fenomena kejiwaan. Reaksi
emosional, sikap, kemauan, perhatian, motivasi, harga diri dan sebagainya
sebagai fenomena kejiwaan yang tercermin pada prilaku orang perorang serta
kelompok merupakan fenomena yang melekat pada kehidupan berbudaya dan
bermasyarakat. Prilaku kejiwaan manusia dalam konteks sosial ini merupakan
objek kajian psikologi sosial.
Berdasarkan
permasalahan yang dikemukakan di atas, maka kami mengambil judul Makalah “Psikologi Sosial”.
B.
Rumusan
Masalah
Supaya
dalam pembahasan dan penulisan makalah ini lebih terarah dan mudah untuk
dipahami,maka kami merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana
konsep-konsep dasar psikologi sosial?
2. Bagaimana
implementasinya dalam kehidupan masyarakat?
C. Tujuan
Dalam
penyusunan makalah ini kami memiiki beberapa tujuan diantaranya:
1. Untuk
mengetahui konsep-konsep dasar psikologi social
2. Untuk
mengetahui implementasinya dalam kehidupan masyarakat
D. Manfaat
1. Manfaat
Bagi Penulis
Manfaat
bagi penulis dapat mengembangkan teori yang dipelajari tentang konsep-konsep
dasar psikologi sosial dan implementasinya.
2. Manfaat
Bagi Pembaca
Manfaat
bagi pembaca dapat mengetahui lebih jauh tentang konsep-konsep dasar psikologi
sosial dan implementasinya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Konsep-Konsep Dasar Psikologi
Sosial
Psikologi
merupakan kata yang diambil dari bahasa Belanda “psycologie” atau dari bahasa
Inggris “psychology”. Ditinjau dari sudut asal katanya, kata psichologie atau
psychology berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu
“psyche” dan “logos” yang berarti jiwa dan ilmu. Berdasarkan kedua pengertian
tersebut, maka orang akan dengan mudah memberikan batasan atau pengertian
psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa atau ilmu jiwa.
(Walgito,2002:1).
Psikologi
sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku
individu-individu dalam hubungannya dengan situasi sosial. Dengan demikian,
psikologi sosial tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan individu yang berhubungan dengan situasi-situasi sosial.
Konsep
dasar psikologi sosial berpusat pada manusia yang memiliki potensi untuk selalu
mengalami proses perkembangan setelah individu tersebut berinteraksi dengan
lingkungannya. Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki
kecerdasan, kesadaran dan kemauan yang tinggi dibandigkan dengan
makhluk-makhluk-Nya yang lain.
Potensi-potensi
yang dimiliki manusia sehingga membedakan dengan makhluk lain-Nya adalah
sebagai berikut:
1. Kemampuan
menggunakan bahasa
Kemampuan
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ini hanyalah semata-mata terdapat pada
manusia dalam pengertian bisa merubah, menambah, dan mengembangkan bahasa yang
digunakan. Sedangkan pada binatang memang ada tetapi masih sangat sederhana
sekali dan terbatas pada bunyi suara yang merupakan isyarat atau tanda-tanda.
Dalam
setiap masyarakat pasti terdapat peraturan atau norma-norma yang mengatur
tingkah laku anggota-anggotanya baik itu masyarakat modern maupun masyarakat
yang masih terbelakang sekalipun norma tersebut merupakan ketentuan apakah
sesuatu perbuatan itu dipandang baik atau buruk. Norma tersebut tidak selalu
sama antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan adat
kebiasaan, agama, dan perkembangan kebudayaan umumnya dimana dia hidup.
Individu sebagai anggota masyarakat berusaha untuk berbuat sesuai dengan norma
yang berlaku dalam masyarakat karena adanya sikap etik yang dimiliknya. Namun
demikian sesuai dengan tuntutan kebudayaan manusia berusaha untuk
menyempurnakan norma yang telah ada.
3. Hidup
dalam 3 dimensi waktu
Manusia memiliki kemampuan
untuk hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia mampu mendasarkan tingkah lakunya
pada pengalaman masa lalunya, kebutahan-kebutuhan sekarang, dan tujuan yang
akan dicapai pada masa yang akan datang. Pengalaman-pengalaman masa lalu
merupakan pegangan bagi perbuatan-perbuatannya masa sekarang, sehingga
kesalahan yang sama tidak akan selalu terulang-ulang. Pengalaman-pengalaman
yang tidak baik diingat untuk tidak diperbuat lagi sedangkan
pengalaman-pengalaman yang baik dipegang untuk pedoman dalam kegiatan-kegiatannya
masa kini yang kemudian kegiatan tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan yang
akan datang dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain bahwa manusia dapat
merencanakan apa yang akan diperbuat dan apa yang akan dicapai.
Ketiga
potensi diatas oleh para ahli dijadikan sebagai syarat “ human minimum “. Oleh
karenanya bila tidak terdapat ketiga potensi ini maka akan sukar untuk
dikelompokkan sebagai masyarakat manusia. Pemahaman ini selanjutnya akan
mendorong untuk meningkatkan kecakapan dan potensi diri pribadinya. Dengan
potensinya tersebut, manusia juga disebut sebagai makhluk monopluralis
(bermacam-macam). Disebut demikian karena manusia dapat dipandang sebagai
makhluk individu, sosial, dan ber-Tuhan.
1. Makhluk
individu
Manusia sebagai makhluk
individual berarti manusia itu merupakan suatu totalita. Individu berasal dari
kata in-dividere, yang berarti tidak dapat dipecah-pecah. Dalam aliran modern,
ditegaskan bahwa jiwa manusia itu merupakan satu kesatuan jiwa raga yang
berkegiatan secara keseluruhan.
2. Makhluk
sosial
Manusia
tidaklah mungkin hidup sendiri tanpa adanya komunikasi dengan manusia yang
lainnya. Sejak dilahirkan manusia membutuhkan bantuan orang lain, ia memerlukan
bantuan makan, minum, dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Demikian pula setelah
tumbuh lebih besar, berbicara, belajar, berjalan, mengenal benda, mengenal
norma, dan sebagainya selalu membutuhkan bantuan orang lain di sekitarnya.
3.
Makhluk ber –Tuhan
Sebagai manusia yang
beragama, dalam kehidupannya tidak bisa dilepaskan dari pengakuan terhadap
Tuhan. Hanya mereka yang tergolong atheis saja yang tidak mengakui adanya
Tuhan.
Konsep-konsep dasar psikologi sosial
yang menjadi salah satu bagian dan kajian ilmu sosial adalah sebagai berikut:
1.
Emosi
terhadap objek sosial
Emosi dengan reaksi emosional,merupakan konsep dasar
psikologi sosial yang peranannya besar dalam mengembangkan potensi psikologis
lainnya. Tinggi rendahnya,terkendali
tidaknya emosi seseorang, sangat berpengaruh terhadap prilaku sosial yang
bersangkutan. Oleh karena itu,emosi sebagai suatu potensi kepribadian wajib
diberi santapan dengan berbagai pembinaan psikologis, termasuk santapan
keagamaan.
2.
Perhatian
dan Minat
Dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya
berkenaan dengan peningkatan kualitas kemampuan intelektual, perhatian dan
minat tersebut memegang peranan yang sangat bermakna. Tanpa perhatian dan minat
dari SDM yang bersangkutan, pengembangannya mustahil tercapai secara optimum.
3.
Kemauan
Merupakan suatu potensi pendorong dan dalam diri individu
untuk memperoleh dan mencapai suatu yang diinginkan. Kemauan yang kuat
merupakan modal dasar yang berharga
dalam memperoleh suatu prestasi. Ada ungkapan “Dimana ada kemauan,disitu pasti
ada jalan”. Kemauan yang terbina dan termotivasi pada diri seseorang termasuk
pada diri kita semua, menjadi landasan yang kuat untuk mencapai sesuatu,
terutama mencapai cita-cita luhur yang kita inginkan. Orang yang kemauannya
lemah,bagaimanapun akan sukar mencapai prestasi yang tinggi.
4.
Motivasi
Motivasi sebagai suatu konsep dasar,selain timbul dari dalam
diri individu masing-masing, juga dapat datang dari lingkungan, khususnya
lingkungan sosial dan budaya. Motivasi diri juga merupakan kekuatan yang
mendorong kemauan.
5.
Kecerdasan
dalam menanggapi permasalahan sosial
Kecerdasan sebagai potensi psikologis bagi seorang individu,
merupakan modal dasar mencapai suatu prestasi akademis yang tinggi dan untuk
memecahkan permasalahan sosial. Kecerdasan sebagai unsur kejiwaan dan aset
mental, tentu saja tidak berdiri sendiri,
melainkan berhubungan dengan unsur-unsur potensi psikologis lainnya. Kecerdasan
sebagai konsep dasar psikologi sosial, memiliki makna yang mendalam bagi
seorang individu, karena kecerdasan tersebut menjadi unsur utama kecendekiawan.
Sedangkan kecendekiawan; merupakan modal yang sangat berharga bagi SDM
menghadapi kehidupan yang penuh masalah dan tantangan seperti yang kita alami
dewasa ini.
6.
Penghayatan
dan Kesadaran
Proses kejiwaan yang
sifatnya mendalam dan menuntut suasana yang tenang adalah penghayatan. Proses
ini tidak hanya sekadar merasakan, memperhatikan, dan menikmati, melainkan
lebih jauh daripada itu. Hal-hal yang ada di luar diri Anda dan kita
masing-masing, menjadi perhatian yang mendalam, dirasakan serta diikuti dengan
tenang sehingga menimbulkan kesan yang juga sangat mendalam pada diri kita
masing-masing. Proses penghayatan ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi diri
kita yang penuh kesadaran. Tanpa kesadaran, penghayatan itu sukar terjadi atau
sukar kita lakukan.
7. Harga
Diri dan Sikap Mental
Harga
diri dan sikap mental, merupakan dua konsep dasar yang mencirikan manusia
sebagai makhluk hidup yang bermartabat. Oleh karena itu, harga diri ini jangan
dikorbankan hanya untuk sesuatu yang secara moral tidak berarti. Harga diri yang
terbina serta terpelihara, merupakan martabat kemanusiaan kita masing-masing
yang selalu akan diperhitungkan oleh pihak atau orang lain. Harga diri yang
dikorbankan sampai kita tidak memiliki harga diri di mata orang lain,
akan menjatuhkan martabat kita yang tidak jarang dimanfaatkan orang lain
untuk memperoleh keuntungan. Sifat atau sikap mental,
merupakan reaksi yang timbul dari diri kita masing-masing jika ada rangsangan
yang datang kepada kita. Reaksi mental atau sikap mental dapat bersifat
positif, negatif dan juga netral, bergantung pada kondisi diri kita
masing-masing serta bergantung pula pada sifat rangsangan yang datang.
8. Kepribadian
Konsep
dasar yang merupakan komprehensif adalah kepribadian. Kepribadian tidak lain
adalah pola, karakteristik, sifat atau atribut yang dimiliki individu yang ajeg
dari waktu ke waktu. Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda yang menjadi
subjek pembangunan masa yang akan datang, wajib memiliki kepribadian yang
kukuh-kuat, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar selalu
siap serta sigap menghadapi masalah-tantangan persaingan. Secara ideal SDM yang
memiliki kepribadian yang demikian itu, dapat diandalkan sebagai penyelamatan
kehidupan yang telah makin menyimpang.
B. Implementasi Sosial dalam Kehidupan Masyarakat
Implementasi psikologi sosial
adalah penerapan hasil studi psikologi sosial dalam membantu memecahkan
problematika sosial yang terjadi pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam setiap masalah
atau kasus yang terjadi di masyarakat pada umumnya disebabkan adanya ketidak seimbangan
perhatian atau pembinaan terhadap kedua aspek yang ada dalam diri manusia,
yakni : aspek jasmani (raga) dan aspek rohani (jiwa). Keseimbangan kedua aspek
tersebut sangat berpengaruh terhadap setiap perilaku individu ketika
menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam berinteraksi dengan
masyarakatnya.
Terkait hal di atas
dapat dicontohkan dalam kasus sebagai berikut : seorang remaja yang berusia 18
tahun yang sedang duduk di bangku SMA memiliki sifat introvert. Lingkungan yang
keras dan minimnya pengetahuan tentang keagamaan telah membesarkannya menjadi
orang yang mudah terpengaruh pada situasi dan kondisi
di lingkungan sekitarnya. Selain dari lingkungan sekitarnya, kasus yang terjadi
pada anak ini juga dilatar belakangi oleh keadaan keluarganya yang broken home
sehingga mengakibatkan pengaruh-pengaruh yang buruk dari lingkungan keluarga
juga dengan mudah memasuki kehidupannya. Hampir tiap malam anak ini bergaul
dengan teman di lingkungannya yang sering berjudi dan mabuk-mabukan sehingga
proses pendidikannya terganggu.
Terkait dengan kasus
kenakalan remaja di atas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa pengaruh
lingkungan yang buruk dan kurangnya perhatian orang tua (broken home) sangat
berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan dan kerohanian pada diri
anak. Dalam hal ini yang paling utama
adalah penanaman jiwa keagamaan anak sejak dini. Jadi, peranan keagamaan pada
diri anak sangat penting dalam kehidupannya, karena dengan pendidikan agama
diharapkan dapat menyaring segala sesuatu yang bersifat negatif dalam kehidupan
bermasyarakat (Arifin,2004).
Psikologi sosial dalam
hal ini membantu memberikan pemecahan persoalannya dengan upaya pendidikan
keagamaan. Perangsang sosialnyang berupa pendidikan keagamaan dan lingkungan
sosial yang penuh dengan kekeluargaan diharapkan mampu merubah prilaku individu
menjadi lebih baik, sehingga secara bertahap persoalan mendasar dari pengaruh
buruk lingkungan akan terkikis dan
tergantikan dengan pengaruh yang baik dari pendidikan keagamaan.
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan
bahasan yang telah kami kemukakan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Konsep
dasar psikologi sosial berpusat pada manusia yang memiliki potensi untuk selalu
mengalami proses perkembangan setelah individu tersebut berinteraksi dengan
lingkungannya. Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki
kecerdasan, kesadaran dan kemauan yang tinggi dibandigkan dengan
makhluk-makhluk-Nya yang lain.
2. Implementasi psikologi sosial dalam
kehidupan masyarakat menggunakan prinsip keseimbangan pada dua aspek yang ada
dalam diri manusia, yakni: aspek jasmani
(raga) dan aspek rohani (jiwa). Keseimbangan kedua aspek tersebut sangat
berpengaruh terhadap setiap prilaku
individu ketika menyelesaikan masalah yangdihadapi dalam berinteraksi
dengan masyarakatnya.
B.
Saran
Dalam
kesempatan ini kami memberikan saran kepada pembaca apabila terdapat kesalahan
dalam pembuatan makalah ini baik penulisan atau susunan kata, kami harapkan
agar pembaca dapat memakluminya karena kami masih dalam tahap pembelajaran. Kritik dan saran
akan kami terima dengan lapang dada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar