Jumat, 09 Mei 2014

MAKALAH IPS

PELAJARAN

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan syukur kami panjatkan kehaadirat Allah SWT. Yang mana telah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Ilmu Pengetahuan Sosial I (IPS I).
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada dosen dan rekan-rekan semua yang telah mendukung dan membantu dalam pembuatan makalah initerutama kepada Bapak Abdul Aziz,S.Hi,M.Pdi. yang telah memberikan tugas. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membaca dan umumnya bagi kita semua.
Kami menyadari segala kekurangan pada makalah ini dapat dipastikan adanya, baik dari segi pengerjaan, penyajian, sistematika penulisan maupun kelengkapannya. Oleh karena itu, kritik dan saran dari rekan-rekan semua kami harapkan.

Ciamis, Oktober 2013

Penyusun











BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kemauan yang tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Kelebihan inilah yang mendorong manusia mampu menguasai alam, menaklukkan makhluk yang lebih kuat dan menciptakan segala sesuatu yang dapat menyempurnakan dirinya.
Hal ini bisa tercapai karena di dalam diri manusia terdapat potensi yang  selalu mengalami proses perkembangan setelah individu tersebut  berinteraksi dengan lingkungannya.
Interaksi social manusia di masyarakat, baik itu antar individu dengan kelompok atau antar kelompok, tidak dapat dilepaskan dari fenomena kejiwaan. Reaksi emosional, sikap, kemauan, perhatian, motivasi, harga diri dan sebagainya sebagai fenomena kejiwaan yang tercermin pada prilaku orang perorang serta kelompok merupakan fenomena yang melekat pada kehidupan berbudaya dan bermasyarakat. Prilaku kejiwaan manusia dalam konteks sosial ini merupakan objek kajian psikologi sosial.
Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka kami mengambil judul Makalah “Psikologi Sosial”.
B.     Rumusan Masalah
Supaya dalam pembahasan dan penulisan makalah ini lebih terarah dan mudah untuk dipahami,maka kami merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana konsep-konsep dasar psikologi sosial?
2.      Bagaimana implementasinya dalam kehidupan masyarakat?
C. Tujuan
Dalam penyusunan makalah ini kami memiiki beberapa tujuan diantaranya:
1.      Untuk mengetahui konsep-konsep dasar psikologi social
2.      Untuk mengetahui implementasinya dalam kehidupan masyarakat

D. Manfaat
1.      Manfaat Bagi Penulis
Manfaat bagi penulis dapat mengembangkan teori yang dipelajari tentang konsep-konsep dasar psikologi sosial dan implementasinya.
2.      Manfaat Bagi Pembaca
Manfaat bagi pembaca dapat mengetahui lebih jauh tentang konsep-konsep dasar psikologi sosial dan implementasinya.
























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep-Konsep Dasar Psikologi Sosial
Psikologi merupakan kata yang diambil dari bahasa Belanda “psycologie” atau dari bahasa Inggris “psychology”. Ditinjau dari sudut asal katanya, kata psichologie atau psychology berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu “psyche” dan “logos” yang berarti jiwa dan ilmu. Berdasarkan kedua pengertian tersebut, maka orang akan dengan mudah memberikan batasan atau pengertian psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa atau ilmu jiwa. (Walgito,2002:1).
Psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku individu-individu dalam hubungannya dengan situasi sosial. Dengan demikian, psikologi sosial tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan individu  yang berhubungan dengan situasi-situasi sosial.
Konsep dasar psikologi sosial berpusat pada manusia yang memiliki potensi untuk selalu mengalami proses perkembangan setelah individu tersebut berinteraksi dengan lingkungannya. Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran dan kemauan yang tinggi dibandigkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain.
Potensi-potensi yang dimiliki manusia sehingga membedakan dengan makhluk lain-Nya adalah sebagai berikut:
1.      Kemampuan menggunakan bahasa
Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ini hanyalah semata-mata terdapat pada manusia dalam pengertian bisa merubah, menambah, dan mengembangkan bahasa yang digunakan. Sedangkan pada binatang memang ada tetapi masih sangat sederhana sekali dan terbatas pada bunyi suara yang merupakan isyarat atau tanda-tanda.
2.      Adanya sikap etik
Dalam setiap masyarakat pasti terdapat peraturan atau norma-norma yang mengatur tingkah laku anggota-anggotanya baik itu masyarakat modern maupun masyarakat yang masih terbelakang sekalipun norma tersebut merupakan ketentuan apakah sesuatu perbuatan itu dipandang baik atau buruk. Norma tersebut tidak selalu sama antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan adat kebiasaan, agama, dan perkembangan kebudayaan umumnya dimana dia hidup. Individu sebagai anggota masyarakat berusaha untuk berbuat sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat karena adanya sikap etik yang dimiliknya. Namun demikian sesuai dengan tuntutan kebudayaan manusia berusaha untuk menyempurnakan norma yang telah ada.
3.      Hidup dalam 3 dimensi waktu
Manusia memiliki kemampuan untuk hidup dalam 3 dimensi waktu. Manusia mampu mendasarkan tingkah lakunya pada pengalaman masa lalunya, kebutahan-kebutuhan sekarang, dan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Pengalaman-pengalaman masa lalu merupakan pegangan bagi perbuatan-perbuatannya masa sekarang, sehingga kesalahan yang sama tidak akan selalu terulang-ulang. Pengalaman-pengalaman yang tidak baik diingat untuk tidak diperbuat lagi sedangkan pengalaman-pengalaman yang baik dipegang untuk pedoman dalam kegiatan-kegiatannya masa kini yang kemudian kegiatan tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan yang akan datang dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain bahwa manusia dapat merencanakan apa yang akan diperbuat dan apa yang akan dicapai.
Ketiga potensi diatas oleh para ahli dijadikan sebagai syarat “ human minimum “. Oleh karenanya bila tidak terdapat ketiga potensi ini maka akan sukar untuk dikelompokkan sebagai masyarakat manusia. Pemahaman ini selanjutnya akan mendorong untuk meningkatkan kecakapan dan potensi diri pribadinya. Dengan potensinya tersebut, manusia juga disebut sebagai makhluk monopluralis (bermacam-macam). Disebut demikian karena manusia dapat dipandang sebagai makhluk individu, sosial, dan ber-Tuhan.
1.      Makhluk individu
Manusia sebagai makhluk individual berarti manusia itu merupakan suatu totalita. Individu berasal dari kata in-dividere, yang berarti tidak dapat dipecah-pecah. Dalam aliran modern, ditegaskan bahwa jiwa manusia itu merupakan satu kesatuan jiwa raga yang berkegiatan secara keseluruhan.
2.      Makhluk sosial
Manusia tidaklah mungkin hidup sendiri tanpa adanya komunikasi dengan manusia yang lainnya. Sejak dilahirkan manusia membutuhkan bantuan orang lain, ia memerlukan bantuan makan, minum, dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Demikian pula setelah tumbuh lebih besar, berbicara, belajar, berjalan, mengenal benda, mengenal norma, dan sebagainya selalu membutuhkan bantuan orang lain di sekitarnya.

3.      Makhluk ber –Tuhan
Sebagai manusia yang beragama, dalam kehidupannya tidak bisa dilepaskan dari pengakuan terhadap Tuhan. Hanya mereka yang tergolong atheis saja yang tidak mengakui adanya Tuhan.
Konsep-konsep dasar psikologi sosial yang menjadi salah satu bagian dan kajian ilmu sosial adalah sebagai berikut:
1.      Emosi terhadap objek sosial
Emosi dengan reaksi emosional,merupakan konsep dasar psikologi sosial yang peranannya besar dalam mengembangkan potensi psikologis lainnya.  Tinggi rendahnya,terkendali tidaknya emosi seseorang, sangat berpengaruh terhadap prilaku sosial yang bersangkutan. Oleh karena itu,emosi sebagai suatu potensi kepribadian wajib diberi santapan dengan berbagai pembinaan psikologis, termasuk santapan keagamaan.
2.      Perhatian dan Minat
Dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya berkenaan dengan peningkatan kualitas kemampuan intelektual, perhatian dan minat tersebut memegang peranan yang sangat bermakna. Tanpa perhatian dan minat dari SDM yang bersangkutan, pengembangannya mustahil tercapai secara optimum.
3.      Kemauan
Merupakan suatu potensi pendorong dan dalam diri individu untuk memperoleh dan mencapai suatu yang diinginkan. Kemauan yang kuat merupakan modal dasar  yang berharga dalam memperoleh suatu prestasi. Ada ungkapan “Dimana ada kemauan,disitu pasti ada jalan”. Kemauan yang terbina dan termotivasi pada diri seseorang termasuk pada diri kita semua, menjadi landasan yang kuat untuk mencapai sesuatu, terutama mencapai cita-cita luhur yang kita inginkan. Orang yang kemauannya lemah,bagaimanapun akan sukar mencapai prestasi yang tinggi.
4.      Motivasi
Motivasi sebagai suatu konsep dasar,selain timbul dari dalam diri individu masing-masing, juga dapat datang dari lingkungan, khususnya lingkungan sosial dan budaya. Motivasi diri juga merupakan kekuatan yang mendorong kemauan.
5.      Kecerdasan dalam menanggapi permasalahan sosial
Kecerdasan sebagai potensi psikologis bagi seorang individu, merupakan modal dasar mencapai suatu prestasi akademis yang tinggi dan untuk memecahkan permasalahan sosial. Kecerdasan sebagai unsur kejiwaan dan aset mental, tentu saja tidak berdiri  sendiri, melainkan berhubungan dengan unsur-unsur potensi psikologis lainnya. Kecerdasan sebagai konsep dasar psikologi sosial, memiliki makna yang mendalam bagi seorang individu, karena kecerdasan tersebut menjadi unsur utama kecendekiawan. Sedangkan kecendekiawan; merupakan modal yang sangat berharga bagi SDM menghadapi kehidupan yang penuh masalah dan tantangan seperti yang kita alami dewasa ini.
6.      Penghayatan dan Kesadaran
Proses kejiwaan yang sifatnya mendalam dan menuntut suasana yang tenang adalah penghayatan. Proses ini tidak hanya sekadar merasakan, memperhatikan, dan menikmati, melainkan lebih jauh daripada itu. Hal-hal yang ada di luar diri Anda dan kita masing-masing, menjadi perhatian yang mendalam, dirasakan serta diikuti dengan tenang sehingga menimbulkan kesan yang juga sangat mendalam pada diri kita masing-masing. Proses penghayatan ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi diri kita yang penuh kesadaran. Tanpa kesadaran, penghayatan itu sukar terjadi atau sukar kita lakukan.
7.      Harga Diri dan Sikap Mental
Harga diri dan sikap mental, merupakan dua konsep dasar yang mencirikan manusia sebagai makhluk hidup yang bermartabat. Oleh karena itu, harga diri ini jangan dikorbankan hanya untuk sesuatu yang secara moral tidak berarti. Harga diri yang terbina serta terpelihara, merupakan martabat kemanusiaan kita masing-masing yang selalu akan diperhitungkan oleh pihak atau orang lain. Harga diri yang dikorbankan sampai kita tidak memiliki harga diri di mata orang lain, akan  menjatuhkan martabat kita yang tidak jarang dimanfaatkan orang lain untuk memperoleh keuntungan. Sifat atau sikap mental, merupakan reaksi yang timbul dari diri kita masing-masing jika ada rangsangan yang datang kepada kita. Reaksi mental atau sikap mental dapat bersifat positif, negatif dan juga netral, bergantung pada kondisi diri kita masing-masing serta bergantung pula pada sifat rangsangan yang datang.

8.      Kepribadian
Konsep dasar yang merupakan komprehensif adalah kepribadian. Kepribadian tidak lain adalah pola, karakteristik, sifat atau atribut yang dimiliki individu yang ajeg dari waktu ke waktu. Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda yang menjadi subjek pembangunan masa yang akan datang, wajib memiliki kepribadian yang kukuh-kuat, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar selalu siap serta sigap menghadapi masalah-tantangan persaingan. Secara ideal SDM yang memiliki kepribadian yang demikian itu, dapat diandalkan sebagai penyelamatan kehidupan yang telah makin menyimpang.

B.     Implementasi Sosial dalam Kehidupan Masyarakat

Implementasi psikologi sosial adalah penerapan hasil studi psikologi sosial dalam membantu memecahkan problematika sosial yang terjadi pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam setiap masalah atau kasus yang terjadi di masyarakat pada umumnya disebabkan adanya ketidak seimbangan perhatian atau pembinaan terhadap kedua aspek yang ada dalam diri manusia, yakni : aspek jasmani (raga) dan aspek rohani (jiwa). Keseimbangan kedua aspek tersebut sangat berpengaruh terhadap setiap perilaku individu ketika menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam berinteraksi dengan masyarakatnya.
Terkait hal di atas dapat dicontohkan dalam kasus sebagai berikut : seorang remaja yang berusia 18 tahun yang sedang duduk di bangku SMA memiliki sifat introvert. Lingkungan yang keras dan minimnya pengetahuan tentang keagamaan telah membesarkannya menjadi orang yang mudah terpengaruh pada situasi dan kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain dari lingkungan sekitarnya, kasus yang terjadi pada anak ini juga dilatar belakangi oleh keadaan keluarganya yang broken home sehingga mengakibatkan pengaruh-pengaruh yang buruk dari lingkungan keluarga juga dengan mudah memasuki kehidupannya. Hampir tiap malam anak ini bergaul dengan teman di lingkungannya yang sering berjudi dan mabuk-mabukan sehingga proses pendidikannya terganggu.
Terkait dengan kasus kenakalan remaja di atas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa pengaruh lingkungan yang buruk dan kurangnya perhatian orang tua (broken home) sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan dan kerohanian pada diri anak.  Dalam hal ini yang paling utama adalah penanaman jiwa keagamaan anak sejak dini. Jadi, peranan keagamaan pada diri anak sangat penting dalam kehidupannya, karena dengan pendidikan agama diharapkan dapat menyaring segala sesuatu yang bersifat negatif dalam kehidupan bermasyarakat (Arifin,2004).
Psikologi sosial dalam hal ini membantu memberikan pemecahan persoalannya dengan upaya pendidikan keagamaan. Perangsang sosialnyang berupa pendidikan keagamaan dan lingkungan sosial yang penuh dengan kekeluargaan diharapkan mampu merubah prilaku individu menjadi lebih baik, sehingga secara bertahap persoalan mendasar dari pengaruh buruk  lingkungan akan terkikis dan tergantikan dengan pengaruh yang baik dari pendidikan keagamaan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan bahasan yang telah kami kemukakan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Konsep dasar psikologi sosial berpusat pada manusia yang memiliki potensi untuk selalu mengalami proses perkembangan setelah individu tersebut berinteraksi dengan lingkungannya. Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran dan kemauan yang tinggi dibandigkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain.
2.   Implementasi psikologi sosial dalam kehidupan masyarakat menggunakan prinsip keseimbangan pada dua aspek yang ada dalam diri  manusia, yakni: aspek jasmani (raga) dan aspek rohani (jiwa). Keseimbangan kedua aspek tersebut sangat berpengaruh terhadap setiap prilaku  individu ketika menyelesaikan masalah yangdihadapi dalam berinteraksi dengan masyarakatnya.
B.     Saran
Dalam kesempatan ini kami memberikan saran kepada pembaca apabila terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah ini baik penulisan atau susunan kata, kami harapkan agar pembaca dapat memakluminya karena kami masih  dalam tahap pembelajaran. Kritik dan saran akan kami terima dengan lapang dada.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar